Rags to Riches: Kisah Sang Pendiri DeepSeek dari Desa Terpencil Hingga Menjadi Miliarder


Berita Gamer Indonesia,

JAKARTA – Kecerdasan buatan (artiifial intelligence/AI) semakin berkembang dan memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang mengembangkannya.

Salah satunya, pendiri
DeepSeek
, adalah produk kecerdasan buatan terbaru dari China, yang diharapkan akan menjadi rival terkemuka bagi ChatGPT, AI yang sangat dikenal.

Rilis pada awal Januari kemarin, DeepSeek adalah bot percakapan berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan dengan anggaran jauh lebih rendah daripada pendahulu-pendahulunya, yaitu OpenAI dan Google.

Bedifferent dari kebanyakan chatbot buatan AI yang biasanya tertutup terhadap sumber daya, DeepSeek bertujuan untuk mendorong perbatasan teknologi agar dapat membuka akses kepada sumber dayanya.

Tersembunyi di balik kemajuan pesat DeepSeek sekarang, terdapat figur Liang Wenfeng, orang yang berasal dari suatu kampung kecil dan terpencil bernama Mililing di bagian selatan Tiongkok. Desa tersebut merupakan tempat sunyi dengan populasi tak sampai 700 jiwa.

Nama Liang Wenfeng sekarang mencuat menjadi figur utama dalam usaha Tiongkok menuju penguasaan dunia di ranah kecerdasan buatan. Sebagai pendirinya serta Chief Executive Officer dari DeepSeek yang masih berumur 40 tahun, kontribusi besarnya pada industri AI telah menjadikan dia simbol nasional dan pemain besar di kancah teknologi internasional.

Desa asalnya yang dulu sunyi, saat ini telah bertransformasi. Warga lokal kini mampu menjalankan warung minuman serta souvenir shop di dekat rumah anak-anak Liang.

Bangkitnya seseorang murid berbakat hingga menjadi tokoh teknologi visius telah menarik perhatian negeri yang sedang berkutat menciptakan masa depannya di tengah persaingan global bidang kecerdasan buatan.

Di bulan Januari, DeepSeek mengumumkan peluncuran model pemikirannya R1 yang mengejutkan industri teknologi di Silicon Valley dan menjadikan Liang sebagai tokoh dunia.

Majalah Time mengakui dia sebagai salah satu dari “100 Tokoh Paling Berpengaruh pada Tahun 2025” dan menyebutkan bahwa kedatangan Liang menjadi momen yang mempertanyakan “kekuatan dominan teknologi Amerika Serikat” secara terbuka.

Lahir pada 1985 dari orang tuanya yang bekerja sebagai guru sekolah dasar, Liang tumbuh di negara yang masih berkembang, berusaha bangkit dari keterbatasan ekonomi terencana.

Tahun 2002, pada usia 17 tahun, ia meraih skor tertinggi di daerahnya saat mengikuti ujian penerimaan perguruan tinggi negeri. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan ke Zhejiang University di kota Hangzhou, lembaga yang terkenal mencetak banyak tokoh pengusaha ternama.

Dia mengambil jurusan Teknik Elektronika di perguruan tinggi itu dan kemudian melanjutkan studinya dengan program pascasarjana tentang visi mesin yang ia selesaikan tahun 2010.

Alih-alih berkarir di sebuah perusahaan, Liang memutuskan untuk hijrah ke Chengdu dan fokus pada pengembangan algoritme untuk transaksi saham. Inspirasi utamanya berasal dari tokoh dunia manajemen risiko asal Amerika Serikat bernama James Simons.

Liang kemudian menulis sebuah pengantar untuk versi biografi Simons dalam bahasa Mandarin, di mana ia mengungkapkan kepercayaannya bahwa pembangunan model yang dapat meramal harga pasaran merupakan hal yang mungkin dicapai.

Tahun 2015, ia memulai petualangan di bidang bisnis dengan menciptakan High-Flyer Quant bersama kawannya saat kuliah, Xu Jin; salah satu dari keenam individu yang disebutkannya dalam skripsi pasca sarjana. Lowongan kerja pertama dari firma ini menunjukkan capaian Liang.

Diuraikan bahwa pada tahun 2008, seseorang bernama “Pak L” mulai bertransaksi saham dengan menggunakan algoritme serta modal awal sebesar 80.000 yuan (AS$11.000), berhasil mendapatkan keuntungan melebihi 100% setiap tahunnya selama tujuh tahun berturutan, hingga akhirnya dia menjadi seorang miliardder.

Perusahaan pengelola dana tersebut dengan cepat menjadi terkenal sebagai salah satu dari empat firma perdagangan kuantitatif teratas di China, yang mengelola lebih dari 100 miliar yuan.

Tahun 2021, perusahaan itu menanamkan investasi sebesar satu miliar yuan guna mendirikan sentra komputasi yang dijejali oleh 10.000 buah kartu grafis Nvidia.

Saat kapabilitas komputasi di perusahaan High-Flyer melebihi keperluan operasional trading-nya, Liang memindahkan prioritasnya menuju bidang AI. Tahun 2019, ia membentuk laboratorium khusus AI, serta menjadikannya sebuah unit mandiri dengan nama DeepSeek pada awal tahun 2023; ini terjadi tak lama setelah OpenAI merilis ChatGPT, dan bertujuan untuk mengejar pengembangan mesin bahasa berbasis skala lebar.

Mulai saat itu, perusahaan startup ini sudah mengeluarkan berbagai macam produk bersifat open source seperti DeepSeek-V3 dan seri R1 yang penuh dengan ide-ide baru. Kedua model ini semakin populer tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar internasional.

Menurut majalah Time, pada bulan Februari lalu, DeepSeek menjadi aplikasi gratis terpopuler yang diunduh dari App Store Amerika Serikat yang dimiliki oleh Apple.

“DeepSeek tim mengoptimalkan produk mereka dengan cara mempertahankan kesederhanaannya sebisa mungkin,” ungkap Petri Kuittinen, dosen dari Universitas Sains Terapan Häme di Finlandia.

Berbeda dengan metode OpenAI yang berbasis pada sumber tertutup, DeepSeek hadir sebagai platform yang transparan dan efisien dari segi biaya, memberikan pilihan lokal yang viable bagi perusahaan dan institusi di Cina.

Penilaian untuk perusahaan itu berkisar antara kira-kira 1 miliar dolar AS hingga di atas 150 miliar dolar AS, menurut tujuh orang founder startup dan ahli kecerdasan buatan. Nilai ini cukup bervariasi tergantung pada sumbernya.

Banyak ahli prediksi mengasumsikan nilai tersebut berada dalam kisaran US$2 miliar hingga US$30 miliar. Berdasarkan indeks Miliarder Bloomberg, jika Liang memiliki 84% dari total itu, dia akan masuk ke jajaran orang terkaya di bidang teknologi di Asia.

Pada tahun 2025, Forbes menobatkan Liang sebagai salah satu dari para miliarder baru dalam daftar mereka, meramalkan bahwa kekayaannya telah menyentuh angka US$1 miliar. Prestasi ini sebagian besar disebabkan oleh kesuksesannya di balik DeepSeek dan juga High-Flyer Capital.

Di bekas sekolah dasarnya, sebuah poster merayakan pencapaian awal Liang, termasuk mempelajari matematika tingkat universitas selama sekolah menengah.

Guru-guru saat ini menjelankannya sebagai contoh ketekunan, sedangkan para pelajar seantero negri menyinggung ceritanya dalam soal uji essay sebagai ikon kerelaan, menghadapi tantangan, dan bangga menjadi warga negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *